Kunjungan Delegasi Dunia ke BRMP Veteriner dalam Momentum 100 Tahun ND
Bogor, 11 Februari 2026 — Suasana Aula BRMP Veteriner Bogor tampak berbeda dari biasanya. Sekitar 100 dokter hewan dan pakar kesehatan hewan dari 15 negara hadir dalam rangkaian kegiatan “100th Years of Newcastle Disease Conference: The Journey, The Breakthrough, The Vision Forward” yang diselenggarakan oleh PT Ceva Animal Health Indonesia, bekerja sama dengan BRMP Veteriner.
Kunjungan ini menjadi bagian penting dari peringatan satu abad penemuan penyakit Newcastle Disease (ND), yang pertama kali dilaporkan pada 1926. Momentum 100 tahun tersebut dikemas dalam rangkaian kegiatan bertajuk CENTIN (Century of Newcastle Investigation), sebagai refleksi perjalanan panjang pengendalian penyakit strategis pada unggas yang hingga kini masih menjadi tantangan global.
Para delegasi yang hadir terdiri atas ilmuwan, peneliti, praktisi veteriner, pembuat kebijakan, serta perwakilan industri perunggasan dari berbagai negara seperti Polandia, Thailand, India, dan Jepang. Kehadiran mereka di Bogor bukan sekadar seremonial, melainkan untuk memperkuat jejaring kerja sama internasional, berbagi inovasi, serta menyusun strategi pengendalian ND ke depan.
Disambut Hangat di BRMP Veteriner
Rombongan disambut oleh Kepala Pusat Perakitan dan Modernisasi Peternakan dan Kesehatan Hewan, Agus Susanto, yang mewakili Kepala Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian, didampingi Kepala BRMP Veteriner, Siswani, beserta jajaran.
Dalam sambutannya, Agus Susanto menyampaikan apresiasi tinggi kepada PT Ceva Animal Health Indonesia atas komitmennya menyelenggarakan konferensi internasional tersebut. Menurutnya, satu abad perjalanan Newcastle Disease merupakan momen penting untuk menilai capaian ilmiah, memperkuat kolaborasi lintas sektor, serta merumuskan visi pengendalian penyakit unggas yang berkelanjutan.
“Newcastle Disease merupakan salah satu penyakit strategis pada industri unggas yang berdampak besar terhadap produktivitas dan ketahanan pangan nasional. Pengendaliannya memerlukan kolaborasi kuat antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, serta lembaga penelitian di tingkat nasional maupun internasional,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa BRMP Veteriner memiliki peran strategis dalam mendukung kebijakan pemerintah melalui perakitan teknologi veteriner, modernisasi laboratorium, layanan diagnostik, hingga penyediaan sarana prasarana pengendalian penyakit hewan.
Menelusuri Jejak Sejarah dan Kapasitas Modern
Setelah prosesi penyambutan dan penyerahan plakat, para delegasi diajak berkeliling meninjau berbagai fasilitas di lingkungan BRMP Veteriner, mulai dari laboratorium diagnostik, perpustakaan, hingga museum.
Salah satu yang menarik perhatian adalah koleksi literatur langka di perpustakaan, termasuk buku Elements of the Veterinary Art karya Charles Vial de Sainbel, profesor pertama di Royal Veterinary College London. Buku tersebut tercatat hanya dimiliki oleh lima institusi di dunia, dan BRMP Veteriner menjadi salah satunya.
Kunjungan kemudian berlanjut ke Museum Veteriner, satu-satunya museum veteriner di Indonesia. Di tempat ini, para delegasi seakan diajak menelusuri perjalanan panjang sejarah pendidikan dan penelitian kesehatan hewan di Indonesia yang telah dimulai sejak 1908. Bangunan dan koleksi bersejarah yang masih terjaga keasliannya memberikan kesan mendalam bagi para tamu internasional.
Antusiasme terlihat jelas dari para peserta yang mengabadikan momen kunjungan dan berdiskusi aktif mengenai perkembangan riset ND serta peluang kolaborasi di masa depan.
Momentum Kolaborasi Global
Peringatan 100 tahun Newcastle Disease (1926–2026) bukan sekadar perayaan sejarah, tetapi juga titik refleksi dan pijakan menuju masa depan. Di tengah status ND yang masih endemik di banyak negara, termasuk Indonesia, penguatan kerja sama internasional dan pengembangan vaksin berbasis isolat lokal menjadi agenda strategis yang terus didorong.
Melalui kunjungan ini, BRMP Veteriner semakin menegaskan posisinya sebagai salah satu pusat rujukan veteriner di Indonesia yang memiliki kapasitas kelembagaan, fasilitas, dan warisan sejarah yang kuat.
Lebih dari itu, keberadaan Museum Veteriner dan fasilitas penelitian modern menjadi simbol bahwa Indonesia tidak hanya berperan sebagai pengguna teknologi, tetapi juga sebagai bagian dari perjalanan sejarah dan inovasi kesehatan hewan di tingkat global.